Bajaj oh ba…..ah yasudahlah

Setelah beberapa waktu belakangan saya terlena dengan ojek daring karena harganya sangat memahami perekonomian dunia, hari ink saya ‘terpaksa’ kembali ke wahana tercinta saya ……. Bajaj. Gerimis (yang sebetulnya juga berhenti) saya jadikan alasan untuk menikmati rindu romantika getaran gak segitunya dari bajaj biru. Tujuan saya adalah stasiun Tanah Abang (disambung gak sih tanahabang?) dari Cikini.

Seekor bajaj terperangkap pada lambaian tangan saya, belum juga saya bilang tujuan dia sudah bilang ‘yuk’……lhaaa ini gimana sih. Untungnya kesadaran saya hari ini lebih kuat untuk tidak serta merta masuk dan dibawa kabur sama kutu jakarta ini. Saya bilang “stasiun tanah abang pak”……dia jawab “yuk”…..lhaaa ini orang emang cuma bisa ngomong yuk jangan-jangan. Saya kuatkan kesadaran saya yang sebetulnya sudah habis waktu buang umbel di sore hari tadi…..”brapa pak?” Tanya saya. “Patpulurebu!” // “Ebuset….biasanya dua-lima rebu pak”// “udah tigapuluh deh”// “dua-lima”// dengan senyum penuh makna dia buka pintu……dan saya merasakan kemenangan sejati menaklukan tawaran bajaj tanpa harus menaikan harga sedikitpun, walau kepala berpikir keras, sekeras pup korban pemakan salak satu keranjang. Kira-kira fitur apa yang akan dihilangkan dalam perjalanan saya, yang paling sering saya terima adalah tidak digunakannya fitur rem (kanvas rem mahal bung!!), namun semoga bukan rem yang jadi pilihan, karena jalanan lagi licin banget sehabis hujan.

Begitu naik dan kutu biru melintasi cikini raya, biasanya kendaraan apapun akan berbelok ke kanan menuju area bakmi gondangdia untuk berputar ke arah tugu pahlawan (yang pada taunya tugu tani)….tak ada tanda-tanda berbelok (takut juga kalo-kalo fitur otak yg kali ini nggak dipake) saya bersiap pegangan tangan bila tetiba si pak bajaj bermanuver dan membanting kanan…….daaannn……tidak terjadi….kutu biru tetap di lajur kiri dengan santai…..saya coba berpikir lagi, jangan-jangan dia akan lewat sekitar taman menteng langsung arah sarinah…..dan tiba-tiba dia belok ke kiri…..yak sodara-sodaraa dia berbelok ke jalan raden saleh, menyusuri kramat, menyapa pasar senen berbelok kiri baru bertemu dengan pahlawan bercaping yang malam-malam masih makan disuapin sang ibu tanpa takut dietnya rusak..saya tanya “knapa lewat sini pak” dengan tenang dia jawab “lagi pengen aja”…..dan seketika saya pusing melihat jam di ponsel saya berbanding jadwal kreta ke jurang mangu. Ternyata dia tidak menggunakan fitur logika peta jalur terdekat, untuk memaksa hasil kemenangan saya ditukarkan dengan rasa was was ditinggal kereta……kereennn, segala prediksi dan pengalaman saya bersama kutu jakarta ini tidak pernah cukup untuk bisa memahaminya.

Bersyukur saya masih dapat naik kereta terakhir dan sekalian diajak jalan-jalan malam. Untuk kenikmatan jalan-jalannya (termasuk ketar-ketir) saya lebihkan ongkos perjalanan malam ini. Terimakasih pak bajaj, kejutanmu selalu kunanti.

Viva bajaj

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Milliyya says:

    Jadi Om. Masih keburu gak dapet keretanya?

    1. brutalator says:

      Udah ada di tulisannya kok…..eh kayaknya beberapa minggu lalu aku liat kamu di parkiran TIM deh….tapi sombong

  2. Milliyya says:

    Biar enggak sombong di parkiran gimana tipsnya, Om?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s