Hujan Bukan (di) Juni

Sudut pusat jajanan kecil di gang yang selama ini saya kenal sebagai gang gloria di pecinan jakarta menjadi pilihan pertama kami untuk dikunjungi. Titipan cakwe dari kakak saya tercinta dan keinginan untuk menyicip lam kari ayam gang gloria yang sering saya dengar ceritanya menjadi keputusan kami untuk menu pembuka, setelah mengetahui mie kangkung jangkung yang juga ada di pujasera tersebut tidak berjualan.

Gerimis sudah mengikuti kami sejak berjalan dari pelataran fatahillah kotatua, hingga lam kari terhidang, butiran air hujan berangsur menjadi hujan deras yang membuat kami was-was akan gagalnya rencana kami menyusuri gang Gloria untuk mampir di soto betawi afung dan menyeruput es kopi Tak Kie. Kami berharap hujan akan segera mereda bersamaan ketika mangkuk lam kari dan mpekmpek di meja kami sudah habis disantap.

Dasar mangkuk Lam kari sudah semakin tak berkuah, ketika kami melihat air di gang Gloria tidak ikut berkurang, justru merambat naik menutupi setengah ban motor yang terpakir berserakan di depan pusat jajanan ini. Air tidak hanya mengepung dari atas tapi mulai menggenangi gang sempit di hadapan kami, kami mengira-ngira air akan menutupi lebih dari mata kaki bila kita menerjang genangan itu seketika kami putuskan mengurungkan niat, demi memastikan alas kaki kamintetap hangat dan kering. Semakin siang kami sadar cita-cita untuk melanjutkan wisata lidah kami untuk menyecap es kopi takie dan soto betawi afung di tengah gang Gloria pupuslah sudah, kedai kopi taki akan tutup segera. Untuk mengobati cita-cita dan sembari menunggu hujan reda kami memesan es kopi susu dan teh muntahai. Hujan masih deras.
Berada di satu titik dalam waktu yang relatif lama, membuat kita semakin menyadari detil-detil yang hadir di hadapan kita. Sebetulnya ini adalah pertanyaan saya cukup lama, mengapa area ini sering disebut sebagai gloria, tetapi bila kita memperhatikan alamat yang dicantumkan beberapa toko di sekitarnya menulisnya dengan jl.*** (Samping Gloria). Apakah Gloria itu dan dimana kah tepatnya. Rasa penasaran saya tidak telalu lama untuk mendapatkan jawaban, teman saya Elen ternyata lebih cekatan untuk menggali cerita dari bapak pedagang Kari Lam. Gloria adalah sebuat pusat perbelanjaan yang sebelum terbakar hebat di tahun 2009 melayani berbagai kebutuhan sehari-hari, dari obat-obatan tradisional hingga duplikasi kunci, dari toko-toko baju hingga Supermaket Ria Jaya yang menyediakan kebutuhan rumah tangga. Ternyata gedung itulah yang menyebabkan gang sempit disebelahnya lebih dikenal sebagai Gg. Gloria.
Gang Gloria bagi saya adalah salah satu ruas penting di kawasan pancoran glodok, biasanya bila ada teman yang penasaran dengan suasana dan kuliner pecinan di wilayah kota tua, saya sempatkan untuk bawa dan lewati gang sempit ini. Bila kita masuk dari jl. Pancoran glodok, maka di ujung gang kita akan disambut pedagang yang berjualan gorengan, baik penganan kecil hingga ngohiang dan bakso goreng, melangkah masuk ke dalam akan terlihat suasana orang-orang duduk menikmati nasi campur, tidak jauh dari mulut gang sebelah kanan bisa kita temukan kedai kopi Tak Kie yang sering terhalangi penjual sajian pi-oh (bulus) dan berbagai penganan lainnya, persis di sebelah Kedai Kopi Tak Kie terdapat tempat pangkas rambut Ko Tang yang sudah hadir sejak berpuluh-puluh tahun.

Hujan masih juga menemani kami. Berderet dengan pangkas rambut Ko Tang lidah kita bisa menikmati gurihnya soto betawi Afung (mungkin ini bukti percampuran budaya yang melahirkan kaum Asnawi=Asli Cina Betawi). Berjalan lebih masuk tepat pada saat gang membelah menjadi dua, di sebelah kanan terdapat toko Kawi yang menjual ham bali (yak daging ham a la bali, bukan hambali nama manusia, ini pernah membuat saya bingung ketika pernah teman mengajak membeli hambali), sajian kuliner gang Gloria berakhir pusat jajan dimana saat ini saya berada dengan berbagai sajian seperti, cakwe, lam kari, mpekmpek, pindang patin, mie kangkung si jangkung, dendeng singapur, siomay, juga kopi gayo.
Cerita gang gloria tidak berhenti disitu, ketika Elen melanjutkan isu yang merebak dan membuat saya terhenyak. Saat ini tepat di lokasi dahulu gedung Gloria berjaya sedang berlangsung pembangunan hunian vertikal, hal ini selalu dikaitkan dengan kebutuhan ruang tinggal yang sepertinya tidak pernah menyukupi berbanding penduduk jakarta. Saya sendiri tidak terlalu menggali lebih dalam kaitan kebakaran dengan rencana pembangunan hunian vertikal di atas mendiang bangunan Gloria, satu isu yang menurut saya lebih mengena pada diri saya adalah cerita bahwa pada saat hunian tersebut sudah berdiri, maka seluruh penyedia kenikmatan kuliner non-permanen yang menjadi salah satu jiwa gang Gloria akan ‘dibersihkan’. Yap, gang Gloria akan kehilangan gerobak-gerobak yang memanjakan lidah kita selama ini, terbayang gambaran deretan motor yang akan parkir di sepanjang gang Gloria, tidak ada lagi kenyamanan berjalan kaki sambil menahan lapar mata yang selalu timbul saat melintas gang Gloria, tidak ada lagi keramahan penjual di lorong gang yang menawarkan nasi campur dan bakso goreng.
Sebuah keseharian akan hilang, sebuah suasana manis yang membentuk budaya di lorong gang Gloria akan berganti dengan rutinitas baru, yang saya tidak tahu seperti apa dan sesungguhnya tidak ingin saya tukarkan dengan pengalaman baru lainnya, bagi saya masih banyak kawan yang belum sempat merasakan romantika salah satu ruas kotatua jakarta ini (mungkin ini saatnya bagi teman-teman yang belum sempat mampir). Seketika hujan tidak lagi menjadi penghambat kami tapi derasnya mengantarkan sepotong cerita dan harapan masa depan gang Gloria, semoga ruas ini tetap bersahaja dengan rasa yang sama. Seketika hujan menyatu dengan emosi saya.

Hujan berhenti menyisakan genangan, dan saya mulai harus mengumpulkan kenangan akan salah satu ruas kotatua jakarta ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s