Sejarah “Lebaran”

Pernahkah kita bertanya-tanya asal suatu kata? Kali ini saya ingin menganalisa kata “lebaran”. Yak, hari dimana umat Islam merayakan ‘kemenangan’ setelah sebulan penuh (perhitungan bulan arab tapi ya, bukan bulan masehi/gregorian) berjuang menahan hawa nafsu (ini menjadi pertanyaan saya berikutnya, kenapa lagi-lagi ‘nafsu’ dikaitkan dengan Hawa bukan dengan Adam, apakah pada saat memakan buah khuldi yang bernafsu adalah Hawa??).

Momen monumental bagi umat Islam ini (bahkan juga bagi masyarakat Indonesia, karena perayaan ini di beberapa tempat sangat cair menjadi acara budaya setempat) menjadi sangat penting hingga berbagai pengorbanan dilakukan demi merayakan hari sakral Lebaran. Saking (‘saking’ tuh bahasa baku nggak sih??) pentingnya momen ini, nama yang dipakai untuk peristiwa ini pun memiliki beberapa sebutan: Idul Fitri, Ngaidul Fitri (ini mah cuman cara ngomong orang Jawir), Riyoyo (perayaan), Boboran Siyam (Sunda) dan Lebaran. Nah yang menjadi misteri saya adalah kata ‘Lebaran’ apa dan dari mana kata ini??

Saya coba mendata hal-hal yang terkait kata dan peristiwa ini. Saya mendapatkan:
Puasa, ramadhan, lapar, haus, sholat ied, mudik, opor, ketupat, maaf-maafan, takbir, 1 syawal, bebas makan lagi, sungkem,…..,……
Dari hal-hal diatas saya melihat dan menggaris-bawahi kata lapar&bebas makan lagi, hmm saya kok berpikir masyarakat kita masih terpaku pada puasa adalah perjuangan akan menahan lapar, bukan menahan hawa nafsu yang lebih utama (dimana makan adalah bagian dari hawa nafsu bukan hal terpisah), buktinya di jalanan kita tetap menemukan orang marah-marah apalagi menjelang buka puasa (hmmm jangan-jangan mereka melatih berbuka puasa yang terbarukan). Kembali ke masalah menahan lapar lalu ditutup dengan pelampiasan makan mem-brutal dari ketupat, opor, kaastengels dilahap kalau perlu dihabiskan dalam sekejap, ada kaitannya dengan perut dalam hal ini, lambung yang selama sebulan penuh diminta untuk menyempit tetiba pada akhir prosesi, sang lambung harus dipaksa menjadi lebar….aahhhhh ternyata itu adalah asal kata Lebaran (lebih lebar), sebuah permohonan umat manusia kepada lambung kita untuk lebih lebar. Lebaran ya lambung soalnya kamu akan dimasuki berbagai makanan jahanam nikmatnya. Lebaran ya celana soalnya pasti saya harus melepaskan kaitan paling atas (kalo memang gak cukup saya akan pake sarung lagi, lebih gampang disesuaikan lebarannya).

Mengapa Lebaran? Bukan Panjangan padahal variabel Luas adalah Panjang x Lebar. Saya curiga kalo namanya Panjangan bisa membuat kesaruan publik dan ini berbahaya.

Tampaknya hingga saat ini analisa Lebaran saya sangat sahih berdasarkan kecerdasaan yang seadanya (maklum saya penganut ‘clean design’, jadi meminimalisasi dan memaksimalkan ruang yang ada, seperti saya memaksimalkan ruang kosong yang terlalu luas di otak saya yang nggak ada isinya). Tentu penelitian saya ini didasarkan pada teori-teori akan perhitungan phitagoras dan teori integral yang dipahami oleh sastrawan kita David Hasselhof.

Sekian pemaparan saya di akhir bulan ramadhan (tapi yang tengah bulan masehi), tentu masih banya kegiatan membersihkan rumah dan membantu persiapan hari raya esok dibandingkan anda membaca tulisan saya ini. Akhir kata saya ingin mohon maaf yanh sebesarnya dan semua handai taulan membuat ruang maaf yang lebaran buat saya yang kurang bisa menyajikan kata kasar dan jorok dalam tulisan ini.

Selamat lebaran, semoga panjang umur dan bahagia.

Salam metal.

-brut-

-adityayoga-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s