rancap identitas sang presiden narsistik

halo bapak presiden, hari ini (19 oktober 2014) hari terakhir anda berkesempatan untuk mematut-matut diri dengan semua fasilitas kepala negara.

baru kali ini saya merasakan bergidik melihat seorang pemimpin yang secara mutlak dapat saya kategorikan mengidap perilaku narsistik. saya akan berbicara dalam koridor yang saya hari ini sedang berusaha pelajari, yaitu penciptaan identitas .

sayang sekali saya tidak pernah merasakan secara langsung aura presiden pertama negeri ini, hanya citranya yang ‘grande’ terasa hingga kini membuat saya ingin sekali merasakan secara langsung aura dan detil kharismanya. tapi pengalaman saya sepuluh tahun belakangan ini (2004-2014) membuat saya benar-benar bergidik, ingin segera melupakan semua memori yang sudah dicemari oleh presiden indonesia ke enam ini.

sebetulnya saya tetus mencari dan berusaha menyimpulkan apa yang diinginkan oleh pak presiden dengan segala tindak tanduknya, namun pada akhirnya yang saya simpulkan hingga hari terakhir kepemimpinannya adalah perilaku narsistik yang dirangkum dalam berbagai rancap penyebaran identitas diri.

hingga saat ini saya percaya pencitraan sebuah produk tidak akan bisa sempurna menutupi kondisi asli yang melekat pada produk tersebut.

tercatat beberapa judul buku dan album musik yang diluncurkan bapak presiden untuk mendirikan monumen-monumen pengenang dirinya. pertanyaan saya apabila memang punya kemampuan bermusik,  kenapa tidak dilakukannya sebelum menjadi presiden… tentu pemanfaatan panggung sebagai orang nomor satu di negeri ini menjadikan semuanya lebih mudah dan lebih megah. lagu yang katanya karya beliau dipaksakan dikumandangkan di seremoni paling sakral negeri ini… upacara kenegaraan 17 agustus, saya yakin seribu satu pembelaan dari beliau menutupi bahwa beliau yang menghendaki lagu tersebut dibawakan di upacara, apabila hal tersebut benar,  saya memuji para cecunguk disekitarnya yang sangat paham bagaimana memaksakan lagu tersebut dikumandangkan demi memenuhi hasrat narsisme tuan presiden.
belum lagi peluncuran bukunya yang terakhir dipaksakan terlaksana walaupun kondisi jakarta sedang dilanda bencana… tentu monumen dirinya jauh lebih penting dibanding bencana rakyat-rakyatnya.

puncak akumulasi perilaku narsistiknya tentu harus berupa rangkuman sejarahnya yang terdokumentasi dengan sistematik, maka diprakarsailah pembuatan museum…. tidak hanya satu… sampai saat ini tanpa riset terlalu dalam,  saya mencatat ada tiga museum dipaksakan peresmiannya beberapa hari sebelum berakhirnya masa jabatan beliau. satu museum kepresidenan di istana jogja, museum di akademi militer magelang dan yang lebih dahsyat museum kepresidenan di lingkungan istana bogor dengan nama Balai Kirti (balai: gedung/bangunan/dsb.., kirti: kemashyuran/kejayaan). tidak hanya itu yang menarik terkait balai kirti yang berusaha merangkum kemashyuran beliau (tentu untuk mengurangi omongan kiri-kanan, maka diajaklah seluruh presiden yg pernah memimpin negeri ini di dalam museum tersebut), tapi yg lebih menarik adalah kenyataan bahwa ruang yang tersedia untuk memamerkan rangkuman kemashyuran legasi jabatan presiden ternyata hanya ada enam ruang, tidak tersedia ruang untuk presiden ketujuh apalagi presiden ke delapan dan setelahnya. sehingga sebagai orang bodoh saya menyimpulkan bahwa rakyat harus menerima cerita bahwa presiden indonesia yang berjasa hanya berhenti di presiden ke enam.

semua tulisan ini mungkin berkesan kebencian saya yang sangat mendalam, hahahaha…. tapi percayalah saya sudah berusahaaaaa untuk mengungkapkannya dengan sangat halus dan tidak mengungkapkan lebih detil fakta-fakta yang saya temukan langsung di lapangan( yang sebetulnya fakta ini membentuk pola pikir saya terhadap presiden yang paling narsistik di negeri ini).

satu hal yang saya pelajari bahwa beliau sangat detil dalam merancang identitas dirinya sesuai dengan harapan bagaimana ingin diterima di ‘rakyat’-nya… namun hari ini masyarakat jauh lebih dewasa dan cerdas melihat dan menganalisa produk mana yang memang baik (walaupun terkadang/sering tidak tersaji dengan kemasan yabg baik) dan produk mana yang busuk namun dipaksakan dibungkus dengan ‘cantik’.

tentu setelah sepuluh tahun mengejar pembangunan monumen dirinya melalui berbagai cara, saya yakin beliau punya jasa yang patut diapresiasi, satu hal yang saya ucapkan terimakasih sebesarnya adalah jasa beliau yang sudah memberikan saya pelajaran berharga bagaimana kaitan branding/pencitraan dengan produk yang dilekatkan padanya. bagaimana saya tidak bisa seenaknya memaksakan sebuah citra yang menipu konsumen hanya untuk keperluan ‘supaya barangnya laku’, karena akhirnya setelah konsumen mengkonsumsi langsung, mereka akan menilai dengan bijak apakah produk tersebut memang unggulan atau hanya sebongkah daging busuk yang bisanya curhat di sosial media…

terimakasih pak presiden, masih ada beberapa saat sebelum anda menyerahkan estafet jabatan kepada presiden ketujuh. mungkin anda masih bisa melakukan rancap* identitas anda untuk yang terakhir kalinya….dan semoga mencapai klimaksnya.

selamat istirahat ya pak.

*onani/hal memuaskan nafsu syahwat dengan jalan tidak wajar (dengan tangan dsb.)

-adityayoga-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s