Selamat berpesta

Betapa beruntungnya saya merasakan momen yang sangat langka, dimana tiga peristiwa yang sakral terjadi dalam waktu yang bersinggungan. Tentu kesakralan ini sangat mudah dibantah bila dilihat dari keimanan kita masing-masing per peristiwa.

Yang pertama adalah peristiwa piala dunia yang hanya berlangsung setiap empat tahun sekali, fanatisme terhadap negara sudah menjadikan para pendukung menjadi umat yang taat dan ahli dalam menafsirkan segala tanda dan gejala dalam memprediksi masa depan tim tersebut. Walaupun kenyataannya lebih banyak yang kecewa dan harus menelan rasa pahit, toh kecintaan pada gerombolan aktor bola negri laut sebrang tidak pernah sirna.

Peristiwa kedua adalah peristiwa puasa di bulan yang mereka bilang suci, seketika orang-orang yang mengaku menganut ajaran Muhammad menjadi orang paling benar dan maha haus perhatian. Berbagai ancaman dilayangkan kepada tempat-tempat pemenuh nafsu duniawi, tempat makan harus tutup disaat matahari hadir, karena dianggap dosa menjadi penggoda lapar disaat puasa, bila diperlihatkan nikmat dunia mereka seakan-akan menjadi orang paling menderita karena harus menjalankan aturan kepercayaannya. Namun yang menarik begitu senja datang tetiba sifat beringas merasuki untuk mendapatkan nikmat dunia yang hanya menyegarkan tenggorokan sesaat dan meninggalkan benci diantara sesama lebih lama. Siang memelas malam beringas.

Peristiwa ketiga adalah agama musiman yang membuat orang seketika punya tuhan baru, tuhan yang harus selalu siap melambaikan tangan dan tersenyum bila sedang tampil, tuhan yang memiliki kebenaran mutlak bagi umatnya yang dipercaya manjur untuk segala penyakit negeri. Pemilu membuat manusia menjadi tidak realistis masuk ke dalam alam mimpi akan masa depan yang sepertinya akan indah (bila tuhannya menang). Segala cara ditempuh demi menjunjung tinggi kebenaran mutlak tuhan masing-masing. Fitnah menggunakan isu klenik hingga fitnah dengan teknologi mutakhir ditempuh demi masa depan penuh mimpi.

Hari ini ketiga peristiwa besar yang kerdil itu sedang hadir di negeri ini, tidak ada yang penting dari tulisan ini kecuali muntahan dari saya yang muak lihat konfrontasi mengatasnamakan peristiwa tersebut. Saya tidak lari dari peristiwa tersebut, tapi semoga Tuhan menjaga saya tetap bisa melihat jujur mana tim sepak bola yang layak juara di piala dunia kali ini, semoga Tuhan juga tetap memberikan saya tenaga untuk berpuasa sehingga saya tidak perlu memelas seperti orang yang seakan-akan tertindas karena lapar dahaga. Dan terakhir, semoga Tuhan memberikan saya kesempatan untuk memilih secara objektif pemimpin yang mau bekerja untuk rakyat dan alam negeri ini.

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s