masjid

Sepekan sebelum bulan puasa Ramadhan, teringat lagi keinginan masa kecil yang tidak pernah berubah hingga sekarang…keinginan mendirikan masjid, masjid mungil dengan halaman yang luas dan arsitektur terbuka sehingga matahari bisa mudah menerobos masuk dan semua lembab bisa leluasa keluar ruangan. Sebuah masjid mungil yang tidak memilih siapa saja yang boleh berkunjung, sebuah area yang selalu tersenyum ramah mempersilahkan masuk apabila ada yang ingin berteduh dari terik, hujan maupun hanya melepas letih.

Semakin bertambahnya umur keinginan purba yang naif itu tampaknya semakin sulit-mendekati mustahil untuk diwujudkan. Bila dilihat dari faktor pribadi, maka kesantunan dan perilaku moral sangat tidak sesuai dengan cita-cita. Dilihat dari faktor teknis masjid-masjid yang ada sekarang sudah terlalu banyak saling bersikutan berebut tempat, setiap waktu adzan maka masing-masing masjid berlomba-lomba untuk menunjukan suaranya untuk menjadi yang terkeras dan seringkali pada saat kutbah tidak mau tersenyum ramah pada perbedaan dan keyakinan…….seperti itukah masjid yg ingin saya dirikan?

Perlahan teringat pelajaran di waktu SD mengenai ‘Gereja’, pada awal saya sangat heran atas dualisme pengertian Gereja yang saya dapatkan, selain Gereja sebagai bentuk fisik dimana terjadi acara ibadah para umat penganut agamanya, gereja juga diartikan sebagai persekutuan para umat yg percaya pada Kristus. Pada penjelasan kedua saya menemukan Gereja yang tidak bisa saya sentuh secara fisik namun bisa dirasakan secara batin, saya tidak bisa lihat namun saya yakin tiap-tiap orang yang bersekutu dan percaya pada Kristus dapat secara nyata merasakannya. Mungkinkah saya bisa menciptakan masjid yang tidak lagi berdinding semen dan beratap kubah?

Keinginan purba itu mendadak muncul lagi, tetap dengan keinginan yang sama dalam bentuk yang berbeda, saya ingin mendirikan masjid di dalam diri saya, yak saya ingin menjadi masjid bagi sekitar saya, persis seperti masjid yang selalu saya idam-idamkan.

Saya akan memulai membangun masjid itu perlahan, saya akan membiarkan dinding-dinding terbuka bebas supaya tiap-tiap orang bisa bebas masuk mampir beribadah memberikan nyawa didalamnya tanpa dibatasi keyakinannya, sebuah masjid sederhana berjiwa arsitektur Indonesia yang mengakui keragaman sehingga berkenan menerima siapapun untuk masuk dan bebas berkegiatan untuk tujuan beribadah memuliakan Tuhan, sebuah masjid yang mempersilahkan siapapun mengambil semua ilmu yang ada didalamnya dan siap menerima semua ilmu yang diberikan tanpa menghakimi.

Sebuah mesjid mungil yang memiliki halaman luas sehingga selalu ada ruang untuk semua tak terkecuali. Di halamannya yang luas nan gersang saat ini akan saya perlahan tumbuhkan tanaman-tanaman pohon sabar yang rindang sehingga tiap-tiap orang yang berkunjung bisa berteduh dari terik marah dan letih emosi.

Saya sangat sadar tak ada masjid yang bisa dibangun sendiri, saya sadar masjid sayapun tak akan berdiri bila tidak diberikan sumbangan jiwa oleh orang-orang yang masuk dan beribadah, yang saya miliki hanyalah ruang fiktif yang siap menerima siapapun untuk bersama-sama mendirikan mesjid di dalam saya, karena setiap marah, senyum, ilmu yang kalian berikan kepada saya akan menciptakan mesjid yang selalu menjadi idaman saya sejak kecil. Selamat datang di masjid saya…selamat beribadah di dalamnya.

Salam

Adityayoga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s